Health

Merokok Berdampak pada Keseimbangan Saluran Pencernaan

Jakarta (KABARIN) - Ahli gastroenterologi menilai keluhan tidak nyaman pada perut hingga munculnya asam lambung pada perokok bisa menjadi tanda awal terganggunya keseimbangan sistem pencernaan akibat paparan tembakau.

Melansir Times of India, Senin (1/6) waktu setempat, konsultan gastroenterologi medis Rumah Sakit KMC Mangalore, India, Dr. Anurag Shetty menjelaskan bahwa merokok dapat memengaruhi lambung dan kerongkongan secara tidak langsung dengan meningkatkan risiko asam lambung.

Ia menyebutkan bahwa kebiasaan merokok dapat meningkatkan asam lambung sekaligus menurunkan pH di dalam lambung. Selain itu, merokok juga dapat mengurangi produksi lendir pelindung lambung dan menurunkan aliran darah ke organ tersebut.

Menurutnya, merokok juga meningkatkan risiko infeksi H. pylori yang bisa memicu terbentuknya tukak pada lambung dan duodenum. Kondisi ini juga berkaitan dengan penurunan tekanan sfingter esofagus yang berujung pada GERD.

“Merokok meningkatkan asam lambung dan menurunkan pH lambung. Selain itu, merokok mengurangi produksi lendir di lambung dan mengurangi aliran darah ke lambung. Merokok juga meningkatkan risiko infeksi H. Pylori. Semua ini diketahui dapat memicu perkembangan tukak di lambung dan duodenum. Merokok juga diketahui dapat mengurangi tekanan sfingter edofagus dan memicu GERD,” jelasnya.

Dalam kondisi normal, lambung menghasilkan asam untuk membantu pencernaan sekaligus memiliki lapisan lendir sebagai pelindung. Namun pada perokok, keseimbangan ini terganggu sehingga produksi asam meningkat sementara lapisan pelindung melemah. Paparan asam berulang pada kerongkongan dapat memicu penyakit GERD.

Shetty juga menambahkan bahwa penelitian menunjukkan merokok dapat mengubah komposisi mikrobioma usus yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Perubahan ini dapat memicu pertumbuhan bakteri berbahaya yang menyebabkan kembung, gas berlebih, hingga gangguan buang air besar.

“Merokok mengubah mikrobiota di usus dengan peningkatan organisme berbahaya. Hal ini diketahui meningkatkan risiko penyakit radang usus seperti IBD,” katanya.

Sementara itu, ahli gastroenterologi dari Rumah Sakit Manipal Goa, Dr. Rohan Badave menuturkan bahwa gangguan pada sistem pencernaan sering kali tidak langsung menunjukkan gejala dan baru terdeteksi ketika sudah parah.

Ia menambahkan bahwa peradangan usus yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi kondisi kronis dan menjadi salah satu faktor risiko utama berbagai jenis kanker pencernaan.

“Tembakau merupakan faktor risiko utama untuk berbagai kanker sistem pencernaan termasuk kanker lambung, kanker kolorektal, kanker pankreas, kanker hati, dan kanker kerongkongan,” kata Badave.

Para ahli menegaskan bahwa dampak tembakau tidak hanya terbatas pada paru-paru dan mulut, tetapi juga dapat memengaruhi seluruh sistem pencernaan mulai dari lambung hingga hati dan pankreas.

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: